
Urip never knew her biological father herself because when she was still in the womb, her biological father, Elout van Hogerveldt, has died. Urip once nearly thrown off a cliff by Wongsodorono, a farmer bad temper is none other than her stepfather herself, when she was eleven months old. Sarinem, Urip mother, is forced by her father to marry Wongsodorono while 7 months pregnant. However, Urip was lucky not to be thrown away because Wongsodorono eventually sell Urip to Joyopranoto, a foreman sugar Sokaraja long-married but had no children.
Urip indo later grew into a beautiful girl by the name of Siti Mariah. The story of adventure and romance Siti Mariah started when she began an affair with sugar opsiner named Henry Dam. She then made the housekeeper by Dam and obtained from him a son named Ari.
However, Mariah happiness did not last long. Troubled home life because of the influence of Mrs van Holstein, owner of the sugar mill where Dam work. By all means, including by using the services of shamans, Mrs. Henry van Holstein influence away from the Dam to Dam Siti Mariah so Henry could marry her daughter Miss Lucie. Attempt is successful, Mariah Dam forced out of life and she had to part with her son, Ari.
Having had escaped from her family's home, pretending to be a servant and became Mrs. Esobier, Siti Mariah finally reunited with her son Henry Dam, Sinyo Ari, thanks to the help Sondari. As well as the stories of the other characters will gain the victory after a great adventure.

Urip tidak pernah mengenal ayah
kandungnya sendiri karena sewaktu ia masih dalam kandungan, ayah
kandungnya, Elout van Hogerveldt, telah meninggal. Urip pernah hampir
dibuang ke jurang oleh Wongsodorono, seorang petani bertabiat buruk yang
tak lain adalah ayah tirinya sendiri, sewaktu masih berumur sebelas
bulan. Sarinem, ibu Urip, dipaksa kawin dengan Wongsodorono oleh ayahnya
sewaktu hamil 7 bulan. Namun, Urip masih beruntung tidak jadi dibuang
karena Wongsodorono akhirnya menjual Urip kepada Joyopranoto, seorang
mandor gula di Sokaraja yang sudah lama berkeluarga namun belum punya
anak.

Setelah sempat kabur dari rumah
keluarganya, menyamar jadi jongos dan menjadi Nyonya Esobier, Siti
Mariah akhirnya dipertemukan kembali dengan Henry Dam dan anaknya, Sinyo
Ari, berkat bantuan Sondari. Seperti juga dengan hikayat-hikayat lain,
sang tokoh cerita akan memperoleh kemenangan setelah melewati
petualangan yang hebat.
Hikayat Siti Mariah merupakan satu-satunya karya sastra pra-Indonesia pada zaman tanam paksa (cultuur stelsel) antara tahun 1830-1890.
- Buku ini karangan Hadji Moekti. Tidak diketahui siapa sebenarnya Haji Moekti, tidak diketahui juga apakah nama samaran atau nama sesungguhnya.
Hikayat Siti Mariah menduduki posisi
yang cukup penting bagi sejarah perkembangan sastra pra-Indonesia karena
merupakan satu-satunya karya sastra pra-Indonesia pada zaman tanam
paksa (cultuur stelsel) antara tahun 1830-1890. Seperti yang tercantum dalam sampul buku tersebut yang berbunyi: "satu-satunya roman kurun ’tanam paksa’ 1830-1890".
- Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu linguafranca. Pada masa itu atau saat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menjalankan politik etis, perkembangan sastra ditandai dengan adanya penggolongan sastra, yakni sastra yang "diakui" kekuasaan dan yang "tidak diakui" kekuasaan. Sastra dalam bahasa Melayu linguafranca masuk dalam kategori yang "tidak diakui" kekuasaan, akibatnya sastra tersebut dianggap sebagai sastra rendahan, bahkan Melayu linguafranca sering disebut sebagai Melayu pasar atau Melayu rendah.
Pertama kali diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung di surat kabar Medan Prijaji yang dipimpin RM Tirto Adhi Soerjo di Bandung antara tahun 1910-1912.
Kemudian masih dalam bentuk cerita bersambung, kurang lebih 50 tahun
kemudian Lentera menerbitkannya kembali antara kurun waktu tahun 1962-1965 dengan editor Piet Santoso Istanto. Diterbitkan kembali dalam bentuk buku oleh Hasta Mitra pada 1987, dengan editor Pramoedya Ananta Toer.
Pelarangan
Hikayat Siti Mariah diterbitkan kembali oleh Hasta Mitra dalam bentuk buku tahun 1987. Saat itu pada masa Orde Baru, tahun 1988, buku Hikayat Siti Mariah bersama buku Gadis Pantai karya Pramoedya, dilarang peredarannya oleh Kejaksaan Agung berdasarkan Surat Keputusan Kejaksaan Agung Nomor Kep-081/J.A/8/1988.
- Pada tanggal 28 Agustus tahun 2000 berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor Kep-223/J.A/08/2000 mencabut pelarangan peredaran buku- buku karangan Pramoedya, termasuk di dalamnya buku Hikayat Siti Mariah. Tahun 2003 Hikayat Siti Mariah kembali diterbitkan oleh Penerbit Lentera Dipantara.
No comments:
Post a Comment